![]() |
| Chairul Tandjung, pemilik Trans Corp. |
Merespon
kondisi tersebut tersebut, Wakil Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU),
Saidah Sakwan, menegaskan pihaknya akan mengkaji dibalik rencana pengusaha
Chairul Tanjung yang akan mengakuisisi VIVA dan termasuk seluruh proses
akuisisi sampai porsi kepemilikannya harus terlebih dulu dilaporkan kepada
KPPU.
KPPU juga
akan memanggil CT Corp untuk rencana bisnis mengakuisisi VTVA. Pasalnya, jika
benar mau akuisisi maka harus notifikasi dulu ke KPPU dan itu akan dilihat
lihat posisi dominannya, dalam kaitannya dengan UU No. 5 Tahun 1999 tentang
KPPU.
Selain itu,
lanjutnya, KPPU juga akan melihat pasar bersangkutan terlebih dulu yaitu pasar
media untuk menilai apakah niat CT mengakuisisi akan mengarah ke oligopoli atau
tidak. Nantinya, kata Saidah, semua media akan di petakan kepemilikannya
berapa. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui, jika kepemilikan CT mencapai
minimal 51%, itu sudah dominan atau belum dan termasuk bila jadi nanti
penggabungan CT Corp dan VTVA akan mengambil "lahan" di pasar media
sampai berapa persen.
Selain
market share, KPPUjuga akan melihat di pasar media itu pelakunya siapa saja dan
masing-masing menguasai berapa persen di sana. "Namun, sebenarnya KPPU
lebih suka jika di suatu pasar, pemainnya banyak karena akan semakin baik.
Sementara jika terjadi oligopoli dari beberapa pemain saja kemungkinan
terjadinya perilaku monopoli akansemakin besar," ujarnya kepada Neraca,
Senin (1/4).
Menurut dia,
semuanya memang akan dikembalikan lagi ke UU No. 5 Tahun 1999 tersebut, walau
misalnya si pemilik lama memaksa saham VTVA harus dibeli CT Corp. "ladi
kalau tidak dimungkinkan UU, maka akuisisi tersebut tidak akan
diperbolehkan," tuturnya.
Menurut
pengamat pasar modal Yanuar Rizki, rencana Chairul Tanjung membeli VTVA sangat
mungkin monopoli industri media akan terjadi semakin masif. "Tentu ada
indikasi monopoli," ujarnya, kemarin.
Namun
begitu, ditnya menilai, penawaran CT untuk membeli VTVA lebih sarat akan unsur
politisnya. Pasalnya, dari Anindya Bakrie selalu membantah tidak mau jual. Lalu
kalaupun dijual maka harganya akan selangit, "Tak ayal, pengusaha Hary
Tanoe (HT) tetap menawar. Sekarang CT ikut menawar. Antara HT dan CT beradu
ingin menunjukkan bahwa mereka masing-masing mempunyai banyak uang," ujar
Yanuar.
Meski Anindya
Bakrie mengaku tidak akan menjual, tetapi kalau dikejar terus bisa jadi akan
dijual dengan harga tinggi. Harganya bisa tinggi karena fungsi strategis media
begitu besar. Apalagi VIVA punya lisensi piala dunia yang itu akan digelar pada
saat pemilu.
Sebaliknya,
Ketua Komisi VI DPR RI, Airlangga Hartarto menilai, akuisisi VIVA oleh CT masih
mengarah ke oligopoli dan bukan monopoli."Yang ada sekarang itu potensi
oligopoli, bukan monopoli, karena pemainnya juga bisa dihitung jari. Jadi tidak
akan mengubah banyak dari struktur pemain di sektor media,"ujarnya.
Airlangga Hartarto yang juga Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) mengatakan,
hal yang akan dilakukan CT itu semata-mata sebagai aksi korporasi saja dan
tidak perlu dibatasi.
Mendongkrak Harga Saham
Sementara itu, pengamat pasar modal, Agus Iriani berpandangan, rencana CT Corp
membeli saham VIVA tampaknya hanya sebagai "pancingan" pergerakan
harga saham VTVA. Pasalnya, saat rumor tersebut beredar harga saham tersebut
terus mengalami peningkatan. "Bisa jadi sebagai pemancing. Dari aspek
psikologis pasar, adanya rumor ini sahamnya akan baik."papamya.
Oleh karena
itu, kata dia, pelaku pasar perlu mencermati kenaikan harga saham tersebut
Terlebih ada aspek lain selain tujuan ekonomi dalam pembelian saham ini.
Investor harus melihat dari sisi PER (price earning ratio)-nya. "Jika
tidak sesuai atau jauh melebihi fundamentalnya yang dijual maka sebaiknya
investor jangan langsung ambil."tuturnya.
Menurut dia,
apabila PER dari saham tersebut sudah berada di atas 20 kali, itu artinya tidak
sehat. Sejauh ini investor perlu berhati-hati jika suatu perusahaan memiliki
pertumbuhan yang rendah di masa lalu, misalnya hanya 5%, namun PE-nya sangat
tinggi. "Jika harganya sudah terlampaui tinggi maka perlu diwaspadai adanya
pembalikan arah." tandasnya.
Lepas dari
hal tersebut, dia menilai, apabila CT berani membeli harga VIVA lebih tinggi
dari harga pasar maka sangat dimungkinkan adanya nilai strategis yang diperoleh
CT yang tidak diketahui publik, baik terkait prospek VTVA sebagai media ataupun
yang terkait dengan perpolitikan yang saat ini cukup kental.
Salah satu
hal logis pihak Bakrie menjual VTVA, lanjut dia, ditengarai adanya kebutuhan
dana cash yang harus dipenuhi Bakrie untuk melunasi pengambilan sahamnya di
Bumi Plc dan mendukung kinerja perseroannya ke depan.
Sebelumnya,
CEO CT Corporation, Chairul Tanjung pernah mengatakan, pihaknya menilai mampu
membeli 100% saham PT Visi Media Asia Tbk (VTVA). Hanya saja, kesepakatan ini
belum selesai. Nantinya, dalam membeli 100% saham VTVA tersebut, CT akan
menggunakan dana pinjaman baru.
Rupanya
peminat pembeli VTVA, tidak hanya dari CT Corp. Namun CEO MNC Grup Hary
Tanoesudibjo juga tengah membidik saham VTVA. Terlebih, pembelian saham VTVA
ini juga dilakukan setelah gagal mengakuisisi Blitz Megaplex.
Hary
Tanoesoedibjo menjadi pihak yang paling serius untuk mendapatkan Visi Media.
Rencananya, pembeli saham Visi Media akan diumumkan dalam beberapa hari ke
depan. Selain itu, pembeli berikutnya datang dari PT Elang Mahkota Teknologi
Tbk (EMTK) induk dari STCV dan Indosiar Bakrie kabarnya melego 51% sahamnya di
Visi Media dengan nilai sekitar USS 1,2 miliar hingga USS 2 miliar, meski
kapitalisasi pasarnya hanya USS 845 juta.
Sebelumnya,
Corporate Secretary VTVA Neil R Tobing pernah bilang, pihaknya tengah melakukan
penjajakan pelepasan saham VTVA ke grup media lain. Kendati demikian, dia belum
mendapat informasi dari pemegang saham.






Post a Comment