![]() |
| Tingkat suku bunga pinjaman sulit mencapai single digit di tahun 2013. |
"Semua keinginan ke sana (suku bunga single digit), supaya bisa kompetitif dengan suku bunga di negara lain. Untuk mengarah ke sana, harus ada persyaratan yang bisa dipenuhi pemerintah maupun bank sentral sebagai regulator," ujar Kepala Ekonomi Bank Internasional Indonesia (BII), Juniman.
Ia mengatakan ekspektasi inflasi pada tahun ini cukup besar dibandingkan dengan tahun lalu, bahkan diproyeksikan sampai akhir tahun akan menyentuh 5,3 persen tanpa ada kenaikan bahan bakar minyak (BBM) subsidi, jika ada kenaikan akan menyentuh 7 persen.
Bagi perbankan, hal tersebut tentunya kurang menguntungkan, dan menjadi pertimbangan perbankan untuk tidak menurunkan suku bunga kredit menuju single digit.
"Jika inflasi bisa dijaga pada level rendah setidaknya 4 - 4,5 persen, suku bunga perbankan berpotensi turun ke single digit. Namun jika inflasinya berfluktuasi average- nya 5 persen, butuh waktu lebih lama mencapai single digit" ujar Juniman.
Belum Efisien
Selain inflasi, dari sisi efisiensi perbankan belum memungkinkan dengan rasio biaya operasional (BOPO) yang masih tinggi. Kalau BOPO masih tinggi, bank sulit menurunkan suku bunga karena cost-nya cukup besar.
"Kalau BOPO turun, dengan sendirinya suku bunga kredit bisa turun ke single digit" jelasnya.
Ia mengakui suku bunga kredit perbankan saat ini memangcukup tinggi, jauh berbeda dengan negara lain, khususnya untuk sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) yang dinilai risikonya besar. Di sisi lain, persaingan usahanya makin berat sehingga membuat perbankan merefleksikan ke suku bunga yang akhirnya tercatat cukup tinggi dibandingkan dengan korporasi.
"Padahal, korporasi kalau dilihat dari risiko juga tinggi, tapi karena UKM itu butuh biaya operasional, maka bebannya ditaruh di suku bunga," kata Juniman.
Pengenaan suku bunga kredit, tambah dia, memang tidak adil karena ada perbedaan yang cukup jelas antara sektor korporasi dengan UKM. Korporasi bisa mendapatkan suku bunga pinjaman mendekati single digit, sedangkan UKM harus menanggung dikisaran 12-18 persen, padahal sektor UKM adalah salah satu pilar penopang ekonomi Indonesia.
Oleh karena itu, tambah Juniman, untuk merangsang perbankan menurunkan suku bunga kreditnya maka pemerintah harus menurunkan target dan dividen kepada perbankan BUMN. Karena tanpa adanya tindakan yang jelas, akan sulit imtuk direalisasikan.
Di sisi lain, peran pemerintah dan Bank Indonesia dalam menurunkan inflasi harus lebih nyata dengan mengontrol suplai barang sehingga dana mahal yang menyandera perbankan nasional bisa diatasi.
Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Kamser Lumbanradja, mengatakan telah melakukan pengawasan untuk sektor perbankan karena suku bunga kredit yang dinilai terlalu tinggi. Apalagi, jika membandingkan antara suku bunga simpanan dengan suku bunga kredit, perbedaannya terlalu jauh sehingga sudah seharusnya suku bunga kredit diturunkan menjadi single digit.






Post a Comment